Senin, 08 Desember 2008

ILMU ANGIN


 

Pembangunan pertanian dalam arti luas merupakan salah satu skala prioritas ke 3 (tiga) pembangunan pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Pembangunan pertanian dalam arti luas tersebut, dalam praktek dan petunjuk pelaksanaannya diartikan sangat luas, sehingga tidak menyentuh pembangunan pertanian itu sendiri. Bila ditarik ke belakang, makna ditetapkannya pembangunan pertanian sebagai salah satu skala prioritas sebenarnya didukung oleh semua pihak, termasuk DPRD. Akan tetapi dalam setiap pengajuan program dan anggaran, porsi yang diterima sektor pertanian sangat tidak sesuai dengan yang didengungkan. Bahkan kebijakan yang semula telah ditetapkan terlihat seperti dilupakan.


 

    Dalam perdebatan beberapa pakar, politikus dan orang-orang yang berkepentingan baik langsung maupun tidak terhadap pembangunan pertanian dapat ditarik satu kesimpulan bahwa Pembangunan Pertanian seperti ilmu angin, artinya tidak terlihat, terasa tetapi tidak dimaksimalkan pemanfaatannya oleh manusia.


 

    Dari hasil analisis, kontribusi sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan terhadap PDRB Kalimantan Timur hanya 2,24%. Bila dibandingkan dengan sektor lain sangat tidak masuk akal untuk menjadi sektor pertanian sebagai skala prioritas.


 

    Akan tetapi perlu diketahui, bahwa perputaran bisnis sektor pertanian sangat besar dan tidak ada bisnis yang mampu menandinginya. Hal ini dapat dilihat, bahwa semua segmen yang terlibat di dalamnya, baik yang berperan sebagai produsen, konsumen, maupun produsen sekaligus konsumen. Selain itu juga melibatkan jutaan tenaga kerja pada berbagai tingkat pendidikan dan keterampilan.


 

    Ilmu angin mengajarkan, mengabaikan hal-hal yang tidak terlihat kontribusinya akan sangat berakibat fatal, dan dampaknya akan sangat dirasakan dan sifatnya berkepanjangan. Dan itulah yang dirasakan oleh Bangsa Indonesia saat ini.

    

    Sejarah telah membuktikan, bahwa bila pangan suatu negara (logistik) dapat dikendalikan atau dikuasai, maka negara atau bangsa tersebut lambat tapi pasti akan jatuh, jatuh kedasar jurang kesengsaraan. Itulah pelajaran yang telah kita pelajari namun tidak pernah dijadikan pelajaran oleh Pemimpin Bangsa ini.


 

    Betapa Bangsa atau Negara Indonesia yang kita cintai ini telah membuktikan bahwa kita mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri yaitu tahun 1985, melalui program yang terarah berimbang dan terkendali. Rakyat tidak perlu konsep, rakyat tidak perlu partai, rakyat tidak perlu janji. Yang diperlukan adalah kesejahteraan. Rakyat Indonesia adalah rakyat yang pintar, jenius, relegi, pekerja keras dan mampu. Akan tetapi terkadang pemimpin kita ini yang selalu menganggap rakyatnya bodoh, tidak jenius, tidak religi, bukan pekerja keras dan tidak mampu. Sehingga ada kesan bahwa program yang ada merupakan program pembodohan masyarakat.

Tidak ada komentar: